https://www.fapjunk.com https://pornohit.net london escort london escorts buy instagram followers buy tiktok followers

Pasar Tradisonal Versus Ritel Modern

Oleh: Subandi Musbah
Direktur VISI NUSANTARA

PAGI ini saya bertemu banyak komunitas. Mulai pedagang pasar tradisional dari berbagai komoditas, sampai Civil Society Organization (CSO) yang peduli persoalan pedagang.

Mengisi materi pada acara DIALOG PUBLIK yang diselenggarakan Serikat Pedagang Kecil Kabupaten Tangerang. Temanya cukup menarik “Pasar, Bisnis Daerah, dan Hajat Hidup Orang Banyak“.

Dalam kesempatan itu, tidak banyak bicara. Hanya beberapa poin penting. Bagi saya keberpihakan kepala daerah terlihat nyata saat menyelesaikan problem pasar. Jika ada persoalan berlarut-larut, itu bisa menjadi penanda bahwa goodwill pemerintah tidak begitu besar terhadap kaum lemah.

Pasar merupakah etalase daerah. Ada banyak persoalan. Namun demikian, apakah sang pemimpin hadir sebagai problem solving, atau mendiamkan sampai persoalan itu menjadi liar?

Jeritan para pedagang harus dimaknai sebagai upaya anak meminta pertolongan orang tua. Responsnya seperti apa, publik barangkali akan merasakan. Terus menilai. Dan untuk Tangerang jawabannya barangkali sudah jelas. Minus.

Terakhir, saya menyinggung maraknya ritel modern. Baik Alfa Mart maupun Indomaret. Keberadaanya bisa menjadi penunjuk awal bahwa negara dalam hal ini daerah berpihak pada siapa. Kalau pedagang kecil sulit bersaing dengan waralaba, itu artinya kebijakan daerah kurang pro poor.

Atau,

Andai pedagang tradisioal gulung tikar lantaran kalah oleh konpetitor modern, tandanya ada kebijakan yang keliru. Jangan menyalahkan penjual eceran. Kebijakannya yang harus dievaluasi. Dan, Serikat Pedagang Kecil perlu menggambil posisi jelas. Tidak boleh abu-abu.

Serikat Pedagang Kecil harus berada dalam barisan pedagang tradisional. Membantu agar mereka tidak menjadi korban dua kali. Karena kebijakan pemerintah dan ritel modern yang melulu bicara untung besar.

Terkini

Agenda

Opini

Tangerang, Kaya Pendapatan Miskin Gagasan

Memahami Demokrasi dan Pemilu di Indonesia

Politik Identitas, Benalu Demokrasi

Inspiratif

Catatan Pinggir

Politik Budgeting

Konsisten atau Dikoyak Sepi

Kelas Menengah Ngehe

Bukan Soal Menang atau Kalah

Verba Volant Scripta Manent

Membaca Ulang Aktor Demokrasi

Pesan untuk KMT